DP, pelunasan, dan piutang: menjaga arus kas percetakan
· 1 menit baca · Tim PrintOS
Omzet besar belum tentu berarti uang di laci. Tiga kebiasaan sederhana supaya kas, piutang, dan shift kasir selalu bisa dipertanggungjawabkan.
Percetakan bekerja berdasarkan pesanan: bahan dipakai dulu, uang penuh baru datang saat barang diambil, dan untuk pelanggan korporat bisa sebulan kemudian. Tanpa aturan yang jelas, omzet terlihat bagus sementara kas menipis.
Pisahkan omzet dari kas masuk
Order Rp 1.000.000 dengan DP 50% berarti omzet Rp 1.000.000 tetapi kas masuk baru Rp 500.000. Laporan harian sebaiknya menampilkan keduanya, ditambah daftar sisa tagihan yang belum diambil pelanggannya.
Batasi siapa yang boleh piutang
Piutang wajar untuk pelanggan korporat dengan invoice kolektif, tetapi tidak untuk pelanggan walk-in. Tetapkan lewat level pelanggan, beri tempo yang jelas, dan pantau jatuh temponya.
Tutup shift dengan menghitung laci
Setiap kasir membuka shift dengan kas awal dan menutupnya dengan menghitung uang fisik. Uang yang seharusnya ada di laci adalah kas awal ditambah pembayaran tunai; QRIS dan transfer dicatat terpisah. Selisih yang langsung terlihat hari itu jauh lebih mudah ditelusuri daripada selisih di akhir bulan.
PrintOS mencatat DP, pelunasan, dan piutang per order, memisahkan kas per metode bayar, dan menghitung selisih kas setiap shift ditutup.